Social Icons

Kamis, 18 Agustus 2016

berita Pembunuhan

 AKHIR pekan lalu, wartawan dipertemukan dengan empat sosok menggunakan penutup kepala di Markas Polres Siak Riau. Saya, termasuk salah satu yang ada di sana. Tangan keempatnya diborgol. Sekilas, terlihat tak ada yang istimewa dari keempat sosok itu. Perawakan mereka tergolong biasa, antara 155 sampai 165 centimeter dengan berat badan berkisar antara 49 sampai 58 kilogram. Usia keempatnya tercatat, 16 tahun hingga 25 tahun.

Dari sorot matanya, tak satu-pun yang memperlihatkan tanda-tanda kengerian. Tapi siapa sangka, perilaku mereka tidaklah seperti yang terlihat. Di balik penutup kepala itu, tersimpan perilaku beringas, sadis dan biadab. Keempat sosok itu adalah pembunuh berdarah dingin. Namanya masing-masing Muhammad Delfi  (19), Dita Desmala Sari (19), Supiyan (25) dan Diki Pranata (16) ditetapkan polisi sebagai pelaku pembunuhan disertai mutilasi.

Saya sempat dibuat kaget, karena ternyata….dua diantara mereka sekampung dengan saya. Onde mande..Malu saia. Jauh-jauh datang ke kampung orang meliput penjahat, ternyata penjahat-nya sekampung pula dengan awak.
Dua orang itu saat kejadian, tercatat sebagai pasangan suami isteri. Mereka bercerai tak lama setelah korban keempat dihabisi. Setelah bercerai, mereka masih bekerjasama untuk mengeksekusi korban-korban lainnya.

 “Sejauh ini, tersangka baru mengakui tujuh korban dan semuanya sudah kita temukan di tujuh lokasi itu,” kata Kapolres Siak, AKBP.Pol.Dedi Rahman Dayan saat itu menjelaskan. Menurut Dedi, di lokasi korban dihabisi, polisi hanya menemukan beberapa potongan tulang korban dan tengkorak kepala. Enam dari tujuh korban tersebut adalah anak-anak berusia 9 hingga 10 tahun, sementara satu lainnya lelaki yang mengalami keterbelakangan mental berusia 40 tahun.

Tersangka tak beraksi di satu lokasi daerah saja. Mereka berputar di tiga daerah, yakni Kabupaten Siak, Bengkalis dan Rokan Hilir. Kejahatan mereka dilakukan sejak Januari 2013 lalu hingga periode Juli-Agustus 2014. Dalam aksinya, tersangka selalu mengambil alat kemaluan korbannya. Sebelum dibunuh, korban terlebih dahulu disodomi. Bahkan tak berhenti sampai disitu. Daging korban juga (maaf…) diperdagangkan. Alamak…
Perilaku biadab itu sulit dibayangkan, termasuk bagi warga yang tinggal di Desa Bunut, Kecamatan Pinang Sebatang Timur, Kabupaten Siak, Riau, tempat para tersangka tinggal.

Tersangka Digiring PolisiTersangka Digiring Polisi
Bahkan, “Dalam pikiran paling liar sekalipun, kami tak pernah menyangka mereka bisa berbuat sekeji itu,” kata Comel Afendi Zen,  salah satu Ketua RT di Desa Pinang Sebatang Timur. Meski agak tertutup dan jarang bergaul, namun kata Comel, tersangka dikenal sebagai sosok yang dekat dan mudah akrab dengan anak-anak.

Itu juga yang dirasakan Misna Anggraini, ibunda Rendi Hidayat, salah seorang korban.  Misna mengaku kenal dengan pasangan Delfi dan Dita, karena sering membawa pergi Yayat, nama panggilan anaknya. Itu sebabnya, Misna tak menaruh curiga pada mereka saat Yayat menghilang sejak setahun lalu.  Dua hari setelah korban menghilang, tersangka juga menghilang dari rumah kontrakannya dan pindah ke Duri. 

Misna beserta keluaga kemudian pergi menemui  mereka ke Duri. Namun, saat ditemui, kata Misna, Delfi dan Dita mengaku tidak mengetahui keberadaan anaknya. Keduanya membantah telah membawa Yayat ke Duri. Justru keduanya seperti terkejut saat mengetahui Yayat hilang.

"Saat ditemui, mereka seolah-olah terkejut anak saya hilang. Mereka mengaku tidak pernah bawa anak saya," jelas Misna.
Sampai akhirnya terdengar kabar mereka ditangkap polisi. Misna sangat terpukul begitu mengetahui keduanya mengaku membunuh Yayat dengan cara yang teramat tragis.
                                                                               ***

Pertama kali bertemu Misna di rumahnya yang sederhana di Desa Bunut, saya tak melihat ia bersedih. Tak ada lagikah air mata, ataukah memang sudah sangat ikhlas?. Entahlah..Yang pasti, wanita itu berusaha tetap terlihat tegar.  Perempuan itu tak menangis. Tapi saya-lah yang harus menyeka genangan air di mata, merasakan Kepedihannya.. “Ah, andai saja..”
Memperlihatkan Foto dan Akte Lahir YayatMemperlihatkan Foto dan Akte Lahir YayatMemulai Penelusuran di belakang kuburanMemulai Penelusuran di belakang kuburan
Setahun menunggu kabar anak nan hilang, lalu mendapatinya dalam bentuk tulang belulang akibat perlakukan para binatang berwujud manusia?. Bukan hal yang mudah. Tapi Misna mampu menahannya.

Karena ketegarannya, saya kemudian menawarkan untuk mengajaknya menyusuri lokasi kejadian, termasuk mendatangi rumah para predator tersebut. Misna mengiyakan. Mungkin ia juga ingin tahu dan melihat sendiri. Dalam perjalanan, ceritanya menjadi lepas. Segala uneg-uneg disampaikannya kepada saya.

Puas berkeliling di rumah tersangka yang amat dikenalnya itu, saya membawanya menyusuri semak-semak di belakang Tempat Pemakaman Umum (TPU) Bunut, tempat anaknya dibunuh pelaku.  Dua hari sebelumnya, polisi sudah memeriksa tempat itu dan “menyelamatkan” tulang belulang Yayat.

Saya menghitung setidaknya baru di langkah belasan, emosi Misna tak tertahan. Ia berhenti. Kedua tangan di tutupkannya ke bagian muka. Misna menangis..

Tapi dalam tangis, ia tetap berusaha tersenyum saat saya menawarkan untuk membatalkan penelusuran. “Sebaiknya kita kembali. Ibu takkan kuat…” saya hendak menyentuh tangannya untuk mengajaknya kembali pulang.
Sandal sebelah kiri yang ditemukan di TKPSandal sebelah kiri yang ditemukan di TKP                                                                                                                                             
Misna memegang sandal anaknya yang ditemukanMisna memegang sandal anaknya yang ditemukan

“Ngga apa. Saya kuat. Hanya saja, sulit membayangkan betapa tersiksanya anak saya saat itu. Betapa teganya mereka membawa Yayat ke tempat seperti ini,” Misna menjawab sambil menyeka air mata, lalu melanjutkan langkah. Saya tak bisa mendebat lagi. Kami-pun memulai penelusuran.
Orang-orang mulai banyak mengikuti kami dari belakang. Sebagian adalah para pengantar jenazah ke kuburan, karena saat kami datang, di pemakaman itu seseorang sedang dikuburkan. Dari sebuah titik,  saya menemukan sebelah sandal. Sebelah kiri . Saya perlihatkan dan tanyakan kepada si ibu. Misna mengangguk dan mengakui, itu adalah sandal yang biasa dipakai anaknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Blogger Templates